Nasehat Bagi Pemuda Muslim Dan Penuntut Ilmu

Sunday, March 7, 2010 16:47
Posted in category Artikel


bahtera600w1-copy1Oleh: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta'ala seperti :

 

[1] Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

 

"Artinya : … Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …?" [Al-Mujaadilah : 11]

 

[2] Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian "Thalibul Ilmi" (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.

 

Diantara perkara-perkara itu :

 

[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.

 

[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

 

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahihah.

 

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

 

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur'an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan "Ghuraba" (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

 

"Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing"

 

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

 

"Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka" [Hadits Riwayat Ahmad]

 

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

 

"Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku".

 

Aku katakan : "Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya".

 

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap "berbalik", dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.

 

Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.

 

Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur'an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

 

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang ("suatu jama'ah") dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama'ah-jama'ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du'at (da'i).

 

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan "ijtihad mereka".

 

Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : "Saya berijtihad". Atau "Saya berpendapat begini" atau "Saya tidak berpendapat begitu", dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur'an dan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta ijma' (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

 

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

 

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.

 

"Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)"

 

Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

 

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.

 

"Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik …" [An-Nahl : 125]

 

Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

 

"Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali".

 

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]

 

[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al- Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]

 

_________

Foote Note.

[1] Penyusun katakan : "Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian "Salafiyah", memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal 'iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari nasib yang serupa

 

sumber: http://www.almanhaj.or.id

  • Share/Bookmark

RINDUKU PADA RASULULLAH

Saturday, March 6, 2010 23:52
Posted in category Artikel


SABAN tahun kita merayakan Sambutan Maulidur Rasul. Ulama' sepakat harus kita menyambutnya melainkan ada unsur-unsur yang menjadikan ia sambutan yang haram. Seperti hari-hari lain, kita perlu sentiasa diingatkan dengan sesuatu peristiwa agar menjadi tauladan sepanjang zaman. Sebab itu, wujudnya sejarah, arkib untuk kita kembali mengingati peristiwa yang besar dan bersejarah, dan yang paling utama Maulidur Rasul, ia merupakan hari yang paling kita kenangi, ingati dan sanjung setiap tahun. Ia bukan hari ulangtahun raja, ulangtahun perkahwinan, ulangtahun jubli mana-mana organisasi, tetapi hari memperingati lahirnya manusia agung, kekasih Allah, manusia yang memberi syafaat, manusia yang dikasihi para nabi dan rasul sebelumnya. Cumanya, jangan hanya meniti dibibir, berarak keliling jalan, berzanji ditengah kepanasan, diberi anugerah tetapi hanya satu kepenatan berbuat demikian sekiranya tanpa diteruskan dengan amalan yang dituntut oleh Nabi Muhammad S.A.W

Maulidur Rasul adalah satu tanda kita menyintai Rasul SAW. Bukan sekadar semasa hari lahir baginda, bahkan sepanjang hari, setiap detik dan saat kita sentiasa mengingati jerih baginda dan sentiasa menanam dalam jiwa menyintai baginda. Firman Allah yang bermaksud : "Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah iaiti nabi-nabi, para siddiqin, syuhada' dan orang-orang yang soleh. Dan mereka itu teman yang sebaik-baiknya". (An Nisa' ayat 69). Baginda bukan untuk dipuja, untuk disembah tetapi sebagai panduan, murabbi sepanjang masa. Hikmahnya, Allah mewafatkan baginda bagi membuktikan bahawa Nabi Muhamad SAW juga rasul, juga pesanan Abu Bakar kepada sahabat baginda agar tidak mendewakan Rasul SAW kerana ditakuti mereka akan sesat sekiranya Rasul SAW wafat dan begitulah yang terjadi di zaman Abu Bakar lah.A.

Baginda adalah pemimpin bagi orang yang taat, benar, ikhlas dalam memperjuangkan dakwah dan Agama Islam. Hanya mereka yang mengasihi Rasul SAW sedar akan kekurangan diri seterusnya sentiasa menjaga tingkahlaku agar tidak mengguris perasaan Rasul SAW. Manusia perlu menganjak perubahan minda agar lebih efektif dan dinamik, pembentukan syaksiah seiring dengan ilmu yang dipelajari agar tidak menjadi 'korban' atau musibah dari ilmu yang dipelajari.

Mencintai Rasul SAW menjadi satu kewajipan dalam konteks ketaatan, menjadi inspirasi dalam konteks dakwah, sebagai silibus dalam prinsip kehidupan sama ada suka ataupun tidak. Umar Al Khatab pernah ditanya oleh Rasul SAW terhadap siapa yang paling engkau cintai, maka Umar lah.A tidak menyebut Rasul SAW, lalu Rasul SAW menegur dengan sabdanya :"Tidak beriman seseorang sehingga dia mencintai aku lebih daripada dirinya sendiri". Lalu Umar lah.A menukar pengakuan dengan mengatakan beliau mencintai Baginda melebihi diri sendiri dan sanak saudara. Penghayatan nilai-nilai nabawi inilah yang berjaya membawa watak yang setia, jujur dan beriman dikalangan sahabat baginda. Dengan ini, kita dapat membina seorang insan yang berjiwa kental, beramanah, berbudaya ilmu, berfikiran dinamik, berdaya saing, berperikemanusiaan dan sentiasa menanam semangat roh jihad yang menjadi asas kekuatan Tamadun Islam berkurun lamanya pada masa yang lampau. Semua ini adalah pengajaran yang didapati dari sirah perjuangan dan keperibadian Nabi Muhammad SAW.

Maulidur Rasul, hari yang penuh berakah ini disebut oleh Ibn Kathir dalam kitabnya bahawa "Malam kelahiran Nabi Agung ini adalah satu malam yang penuh berkat, penuh kemuliaan, keagungan, alam yang diterangi cahaya yang indah serta seluruh makhluk bergembira pada saat tersebut. Inilah malam yang tidak ternilai harganya bagi pengikut setia Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya Allah dan para malaikat sentiasa berselawat ke atas Rasul SAW melalui firman Allah yang bermaksud :"Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu ke atas Nabi Muhamad SAW dan berilah salam dengan kesungguhan yang nyata". (Al Ahzab ayat 56). Ini merupakan sanjungan Allah terhadap Muhammad SAW dihadapan para malaikat.

Akhirnya, marilah kita sama-sama memohon kepada Allah agar mengukuh landasan yang dibina dan ditinggalkan oleh baginda SAW tidak diseleweng dan dicantas serta dihalang oleh mereka yang takut pada perjuangan Islam. Menjadikan kita sebagai pengikut setia yang sentiasa memahami apa yang diperintah dan menjauhi segala larangan baginda dan menghimpunkan kita daripada umatnya di akhirat agar baginda mengaku diri kita adalah sebahagian dari umatnya dan kita minta dijauhkan menjadi mereka yang tidak digolongkan dari umat Muhamad SAW. Nauzubillah min zalik. Perayaan Maulidur Rasul ini adalah tanda kasih sayang kita kepada Baginda SAW dan rasa rendah diri dan terima kasih atas nikmat Islam yang kita rasai sekarang. Selawat dan salam ke atas Junjungan Besar Nabi Muhamad SAW yang memberi penyuluh dan syafaat kita di dunia dan akhirat. InsyaAllah.

 

 

  • Share/Bookmark

Melayu Dan Mamak Penang

Monday, February 22, 2010 20:11
Posted in category Artikel

Oleh: Dr. Mohd Asri bin Zainul Abidin

 

Isu perarakan maulid di Pulau Pinang menjadi kecoh. Ramai wartawan menghubungi saya bertanya tentang hukum perarakan maulid Nabi s.a.w itu. Ia sangat menarik. Sejak sekian lama orang Melayu berarak barangkali mereka terlupa bertanya asal-usul perarakan tersebut.

 

Banyak isu-isu yang akhir ini menjadi universiti terbuka untuk rakyat. Ya, seperti mana yang kita tahu bahawa sejarahwan Islam sepakat baginda Nabi s.a.w lahir pada Hari Isnin, cumanya mereka berbeza pendapat tentang tarikh lahir baginda s.a.w. Kita biasanya mendengar disebut pada tarikh 12 Rabi’ul Awwal. Namun ramai pengkaji yang menyatakan bahawa tarikh sebenar maulid baginda ialah pada 9 Rabi’ul Awwal.

 

Antara yang berpegang dengan tarikh ini al-Syeikh Safiyy al-Rahman al-Muabarakfuri iaitu penulis kitab Sirah terkenal Rahiq al-Makhtum. Di samping di sana ada beberapa tarikh lain yang disebut oleh pengkaji sejarah yang lain. Kegagalan untuk memberikan tarikh yang disepakati itu antaranya berpunca dari para sahabah, tabi’in dan tabi al-tabi’in atau disebut generasi salafus soleh tidak merayakan Maulid Nabi s.a.w.

Al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) mencatatkan bahawa cadangan agar tarikh Maulid Nabi s.a.w dijadikan tarikh kiraan tahun Islam pernah dibuat kepada ‘Umar bin al-Khattab. Namun beliau tidak menerimanya.

Kata seorang pengkaji Sirah yang juga merupakan tokoh politik dan Ahli Parlimen Jordan, Dr Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris:

“Pada pendapat kami –Allah lebih mengetahui-, hikmah di sebalik penolakan Umar itu kerana beliau mempelajari dari Rasulullah s.a.w agar kita berbeza dengan Yahudi dan Kristian. Orang Kristian menentukan tarikh berdasarkan kelahiran Nabi Isa bin Maryam a.s. Mereka berlebihan dalam memuji dan membesarkan baginda sehingga sampai ke peringkat ketuhanan. Mereka kata: dia anak Allah, kadangkala “dia Allah” dan dia satu dari yang tiga.

Tujuan ‘Umar itu agar orang Islam tidak terjatuh seperti Kristian dalam berlebihan membesarkan Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w sendiri telah memberi amaran agar tidak berlebih-lebihan dalam memuji baginda. Sabda baginda: “Jangan kamu memujiku berlebihan seperti Kristian berlebihan memuji Isa bin Maryam. Aku hanya seorang hamba Allah. Katakanlah: “Hamba Allah dan rasulNya” (al-Bukhari). Maka Umar tidak menjadikan maulid Nabi s.a.w sebagai permulaan kalendar Islam untuk mengelakkan generasi kemudian menyeleweng” (Abu Faris, al-Hijrah al-Nabawiyyah, m.s 16, Jordan: Dar al-Furqan).

Inilah ulasan Dr Abu Faris dan pendapat ini dikongsi oleh ramai pengkaji yang lain.

Tanpa syak umat Islam berbangga dengan kedatangan Nabi s.a.w. Kelahiran yang membawa kebahagiaan dan rahmat kepada dunia sejagat. Cumanya, dalam proses mengelakkan persamaan di peringkat itu mereka tidak mengadakan sebarang perayaan khas. Bukan bererti mereka tidak menghargai. Sebaliknya generasi Salafussoleh merupakan zaman yang paling menghormati, mengikuti dan menghargai Nabi s.a.w.


Mereka terjemahkan itu semua dalam tindakan dan perbuatan mereka. Mereka mengamalkan sunnah baginda dan menegakkan prinsip-prinsip kebenaran yang ditegakkan oleh baginda. Hakikatnya, mereka merayakan pengutusan Nabi s.a.w sebagai rasul sepanjang hayat mereka. Namun apabila muncul zaman Kerajaan Syiah Fatimiyyah di Mesir, perayaan Maulid Nabi s.a.w secara besar-besaran diadakan. Sebab itu dalam Fatawa al-Azhar diakui bahawa ahli sejarahwan Islam tidak mengetahui sesiapa pun yang memulakan perayaan Maulid Nabi s.a.w melainkan Kerajaan Syi’ah Fatimiyyah di Mesir yang mengadakannya secara besar-besaran. Mereka turut meraikan hari kelahiran tokoh-tokoh Ahlil Bait dan kelahiran Nabi Isa a.s.

Kemudian pada tahun 488H dihentikan oleh Khalifah mereka al-Musta’la billah. Kemudian ia dihidupkan oleh beberapa pemerintah yang lain. Para ulama pula berbeza pendapat tentang hal ini. Ada yang membantah habis-habisan. Ada pula yang mengizinkan dengan bersyarat tidak mengadakan sebarang ibadah baru sempena Maulid, iaitu seperti solat Maulid, atau puasa maulid, atau seumpamanya. Sudah pasti mengingati maulid dengan mempelajari Sirah baginda, berdiskusi mengenainya dan mengingatkan tentang kepentingan menghayati perjuangan baginda, tidaklah salah.

Adapun Kerajaan Fatimiyyah, mereka mempunyai agenda politik yang tersendiri. Mereka ingin berkempen kepada kekuatan aliran syiah mereka. Beberapa pemimpin sunni kemudiannya mengadakannya juga atas berbagai tujuan yang lain. Ia berlangsungan dalam kebanyakan negara sehingga dibawa ke negara kita ini.


Melihat kepada sejarah perayaan maulid, maka jelas bahawa isu perarakan bukan isu pokok dalam ajaran Islam. Ia sangat sampingan. Bahkan perayaan itu sendiri antara amalan yang menimbulkan pro dan kontra sepanjang sejarahnya. Tidak mengadakan maulid tidak menjejaskan sebarang akidah atau amalan Islam. Tentu pasti, tidak berarak maulid tidak memberikan apa-apa kesan kepada kehidupan seorang muslim.

 

Cumanya, kita agak terkejut mengapa soal Islam dan umatnya cuba diuruskan oleh seorang pemimpin yang bukan Islam. Ini menimbulkan berbagai persoalan. Saya tidak fikir Ketua Menteri Pulau Pinang sampai ke peringkat perbahasan ilmiah seperti yang disebut kebanyakan sarjana tentang amalan maulid ini. Maka, apakah tujuannya? saya tidak jelas.

Namun masalah umat Islam Pulau Pinang lebih besar dari tidak dapat berarak maulid. Tidak berarak maulid bukan masalah. Apa yang menjadi masalah mereka terpinggir dan seakan ada usaha ingin menghalau mereka keluar dari pulau itu sejak sekian lama. Keadaan yang dicipta yang menghimpit kehidupan mereka di pulau tersebut sehingga mereka yang berkerja di situ lari mencari penempatan di Seberang Perai, atau Kulim dan Sungai Petani, Kedah.

Lonjakan harga rumah dan pengkhianatan sesama agama dalam pengurusan tanah dan harta telah bermula sejak sekian lamanya. Sebahagian yang bertempik sakan hari ini kononnya membela melayu Pulau Pinang, tangan mereka juga tidak lebih bersih daripada tangan-tangan kotor yang ada pada hari ini.

Bukan baru, atau setahun dua melayu terpinggir. Sudah lama. Malang sebuah negeri yang pernah dalam satu masa Perdana Menteri dan Ketua Pembangkang berasal darinya, tetapi umat Islam negeri tersebut sedang dihambat oleh suasana, rencana dan pengkhianat ‘orang lain’ dan sesama bangsa.

 

Sultan Muhammad Jiwa telah menjual Pulau Pinang kepada Inggeris. Di situ segala bermula. Cumanya, disebabkan suasana yang lebih bebas dari kongkongan pemikiran feudal, negeri ini sejak dahulu terkenal dengan melahirkan atau memberi ruang kepada tokoh pemikir dan orang yang petah berbicara.

Saya puji bukan kerana saya orang Pulau Pinang. Semaklah sendiri. Namun ternyata, hambatan kuasa ekonomi lebih kuat dari ketajaman fikiran dan kepetahan lidah. Pemikiran-pemikiran yang baik pun tidak mampu menghadapi kekuatan dan pengkhianatan sesama bangsa atau agama. Bukan perarakan maulid yang menentukan survival ‘melayu Pulau Pinang’. Ya, ‘survival melayu’. Itulah bahasa yang sering mereka gunakan “melayu Pulau Pinang”. Saya antara orang kurang selesa dengan perkataan perkauman yang seperti itu. Sebutlah ‘umat Islam Pulau Pinang’. Dada agama jauh lebih luas dari kesempitan bangsa. Insan boleh menjadi muslim walaupun dia dilahir tidak muslim.

Namun, seorang bukan melayu tidak boleh bertukar menjadi melayu. Isu bangsa sentiasa sempit. Isu Islam sentiasa luas dan memberi rahmat untuk semua. Hakikatnya, yang mengangkat sedikit sebanyak nama orang Islam di Pulau Pinang bukanlah melayu tetapi ‘India Muslim’ Pulau Pinang. ‘Depa panggil mamak’.

Kedai mamak nasi kandar dan kedai emas ‘keling’ (india muslim) yang menyebabkan kita dapat melihat orang Islam berniaga di Pulau Pinang. Bukan tiada peniaga melayu tulen, tetapi tidak begitu banyak. Alhamdulillah, mamak Penang sudi untuk mereka dipanggil ‘orang melayu’. Maka, masih terdengarlah kewujudan melayu Pulau Pinang.

 

Sudah lama isu bangsa cuba diangkat. Cukuplah wahai melayu semua parti politik. Kekuatan kita ialah Islam. Berjuanglah atas semangat Islam. Ia lebih merangkumi setiap individu dan lebih adil untuk semua insan. Melayu Pulau Pinang tidak akan bangkit sekadar perarakan maulid. Sudah sekian lama kita berarak, apa hasilnya?! Dapat kita beli tanah, lot kedai dan rumah di Pulau Pinang lebih banyak?!

Kembali melihat isu dengan kefahaman Islam yang tulen dan merancang sebagai seorang muslim, bukan sekadar seorang melayu. Orang lain merancang, kita juga mesti merancang. Kita mengharapkan kekuatan semangat Islam dan pertolongan Allah, bukan sekadar semangat bangsa dan keris Hang Tuah.

  • Share/Bookmark